Selasa, 30 Juni 2009

Buah Sabar itu Manis
Oleh; Astutiana

Kejadiannya begini, kami baru saja menerima kenyataan bahwa anak kami lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Urusan melanjutkan sekolah pun sudah beres karena sebelum UN anak kami sudah mendapat sekolah yang cukup representative untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Jelas-jelas kami bersyukur sekali kepada Allah yang sudah mengabulkan doa kami sekeluarga.
Orangtua mana sih yang nggak sport jantung ketika menghadapi anak-anaknya mengikuti UN ,yang dari tahun-ke tahun selalu menghantui anak-anak yang mengikuti ujian. Jadi saya sebagai seorang ibu sangatlah wajar kalau selalu berusaha dan berdoa, walau hasil akhirnya ada pada keputusan Allah. Sebagai manusia kita wajib berikhtiar. kan !
Bolehlah saya cerita sedikit tentang perjuangan saya dan anak saya meraih sukses di akhir UN tingkat SD. Ketika anakku memasuki klas 6 di salah satu SD Islam favorit di kota Solo. Klas 6 ini diberlakukan secara khusus, maksudnya mereka benar-benar dipersiapkan untuk meraih sukses menghadapi UN.
Setiap orang tua punya cara tersendiri untuk membantu anaknya dari mulai mengikuti bimbingan belajar yang regular sampai yang eksekutif dengan merogoh kocek yang tidak sedikit mereka para orangtua rela melakukannya
. Mungkin kalau saya punya dana yang cukup pasti ikut tergiur dengan program-program bimbingan belajar yang cukup menjanjikan. Apa daya saya bukan orang yang berkantong tebal jadi keberhasilan anak saya sepenuhnya saya serahkan pada bapak ibu guru yang membimbing anak saya di sekolah. Yang penting antara pihak sekolah dengan orangtua ada komunikasi yang baik dan selalu seia sekata dengan kebijakan-kebijakan yang diputuskan sekolah
Dengan mengikuti pengarahan dari sekolah, bagaimana menyiapkan anak yang diberlakukan khusus di sekolahnya, mulai dari gizi, emosi, kesehatan, buku-buku penunjang, dan suasana rumah yang kondusif, semua itu ikut memacu keberhasilan anak dalam menghadapi UN. Dari sisi anak kita harus menyiapkan mental anak dengan menyatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Guru pun ikut berperan penting dalam keberhasilan anak, bagaimana caranya supaya anak mampu menangkap apa yang diterangkan oleh guru dan dapat menerapkankannya dalam menjawab soal-soal yang diberikan guru.
Saat saat berjuang untuk meraih keberhasilan peran orangtua juga sangat penting karena harus membujuk anaknya agar giat belajar walaupun itu hari libur, mereka harus masuk sekolah, sore hari ketika teman-temanya yang lain asyik bermain mereka harus rela belajar tambahan. Tapi semua jerih payahnya itu membuahkan hasil yang seimbang ketika mereka sukses dengan nilai rata-rata sembilan lebih, Subhannallah. Ternyata mereka mampu menjadi yang terbaik bila benar-benar di pacu untuk maju.
Kegembiraan orangtua yang anaknya sukses ternyata hanya sementara. Orangtua harus sibuk lagi mencarikan sekolah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sangat beruntung bagi orangtua yang sudah jauh-jauh hari mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah favorit dan menyikuti tes seleksi yang cukup melelahkan dan akhirnya diterima. Sedang mereka yang belum mendaftar ke sekolah, mereka harus sport jantung lagi, meluangkan waktu ,tenaga, dan pikirannya, agar anaknya bisa diterima di sekolah yang mereka inginkan.
Adanya PSB online, yang mengharuskan kita melihat jurnal setiap hari karena ingin melihat posisi aman, atau tidak aman bagi anaknya. Yach ini adalah tugas tahunan para orangtua yang bertanggungjawab akan kelangsungan belajar anak-anaknya. Sedang untuk anak yang nilainya rendah atau malah tidak lulus, orangtua juga ikut sibuk dan harus rela anaknya sekolah di sekolah yang bukan impiannya sebelumnya.
Secuil pengalaman pribadi saya ketika mendampingi anak menyiapkan diri menghadapi UN. Jauh-jauh hari sebelum anak saya klas 6. Saya selalu mengamati teman-teman saya yang sedang menyiapkan anaknya menghadapi UN, ada yang rajin puasa senin kamis, ada yang menghadirkan guru les privat, ada yang anaknya mengikuti bimbingan belajar dari mulai yang regular sampai yang eksekutif. Ada juga yang menempuh jalan pintas dengan membeli kunci jawaban. Ya Allah tunjukkan saya jalan yang lurus untuk mengantar anak saya kependidikan yang lebih baik.
Saya merenung dan berdoa. Ya Allah anak saya bukan anak yang pandai-pandai amat di sekolah. Tapi yang saya inginkan Kau berikan yang terbaik untuk buah hati saya. Dia sudah 6 tahun menuntut ilmu di sekolah Dasar Islam. Saya ingin dia tetap menjaga akidahnya, saya tidak mau hafalan Al Qurannya hilang, saya ingin bahasa Arabnya semakin baik, saya ingin dia berakhlak mulia. Semoga Kau mengabulkan doa saya ya Allah. Sedang usaha saya salah satunya selalu menahan rasa marah saya terhadap anak saya. Sabar. Sabar.. Sabar. Kalau mau meraih yang diinginkan kita harus sabar.. Saya harus benar-benar secara tulus memberi pengertian padanya agar dia giat belajar sehingga menjadi yang terbaik.
Untuk memotivasinya saya memberi iming-iming berupa janji bila dia bisa memperoleh nilai 9 untuk nilai UN, akan saya hargai sepuluh ribu rupiah. Saya sering bicara dari hati ke hati dengan buah hati saya dengan menceritakan pengalaman-pengalaman anak-anak yang sukses maupun yang gagal. Saya nggak peduli berapa persen yang bisa diingat, apakah dia tertarik atau tidak, yang penting saya sudah menyanpaikan dengan bahasa saya sendiri. Semoga akan tertanam di hatinya yang paling dalam. Dan bisa memotivasinya untuk mewujudkan cita-citanya.
Saya juga mau berbagi pengalaman saya ketika mencari sekolah untuk pendidikan anak saya selanjutnya. Sekolah-sekolah favorit kan selalu lebih awal dalam merekrut siswa baru. Jadi saya dengan berbekal fotocopy raport dan otak anak saya mencoba mendaftar ke salah satu sekolah Islam favorit swasta. Semua prosedur yang ada kami ikuti, ternyata nasib menentukan lain atau mungkin juga hasil tes anak saya tidak memenuhi standar yang ditentukan, karena anak saya harus puas dengan posisi cadangan diurutan sekian belas.
Kecewalah hati ini menghadapi kenyataan seperti itu. Tapi rasa kecewa saya tidak bertahan lama, ia harus pergi dari hati saya karena saya masih punya banyak harapan. Sebagai orang yang beriman dan yakin seyakinnya bahwa yang baik untuk saya belum tentu baik untuk Allah dan sebaliknya yang Buruk buat saya belum tentu buruk buat Allah. Sambil menghibur diri, saya berkata dalam hati “Oo memang Allah Maha Mengetahui, saya tidak punya dana sebanyak itu, Yang pas buat anak saya bukan di sekolah itu”
Naluri seorang ibu yang ingin anaknya berhasil selalu berusaha dan berusaha untuk mendapatkan yang terbaik untuk anaknya. Ternyata masih ada sekolah yang tidak kalah bagusnya baru membuka pendaftaran. Sekolah itu bagus sangat sesuai dengan keinginan saya, yaitu Sekolah negri dibawah naungan Departemen Agama, yang membuka Program Khusus untuk memberi pendidikan yang terbaik karena dilengkapi dengan bekal life skill dan tentunya benar-benar menjaga akidah .
Saya datang di saat-saat terakhir hari penutupan pendaftaran itu, saya hanya punya waktu 30 menit untuk menyiapkan persyaratan yang diminta sekaligus membawa anak saya yang harus mengikuti tes hari itu juga. Karena pertolongan Allah semua berjalan lancar. Saya bisa menghadirkan anak saya untuk mengikuti tes tertulis dan tes lisan yang diberikan oleh tim penguji.
Hari berikutnya saya harus menyiapkan persyaratan-persyaratan lain yang masih kurang. Alhamdulillah pada saat pengumuman hasil seleksi anak saya termasuk salah satu anak yang diterima dari dua puluh siswa yang diterima. Subhanallah. Dan dana yang harus saya keluarkan tidak sebesar dana Sekolah swasta dimana anak saya diterima hanya sebagai cadangan. Semua ini membuka tabir rahasia Allah yang baru kita sadari setelah semua terbuka di depan mata kita.
Kalau boleh saya mengambil hikmah dari peristiwa itu adalah; Jangan cepat berburuk sangka, Jangan cepat putus asa atau kecewa, sebagai orangtua kita harus cerdas dalam menyikapi suatu masalah, bersikap luweslah untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan lain yang bisa kita ambil. Sekuat apa pun kita berusaha bila Allah tidak menghendaki pasti tidak akan berhasil. Kita wajib berusaha dan berdoa, sedangkan keputusan akhir bersandarlah pada Allah, karena itulah yang terbaik buat kita. Setuju?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar